Berikut modul mata pelajaran Prakarya dan kewirausahaan kelas X semester gasal. Untuk download KLIK DISINI
Home
All posts
11/23/2016
Modul Prakarya Kewirausahaan Kelas X Semester 1
Berikut modul mata pelajaran Prakarya dan kewirausahaan kelas X semester gasal. Untuk download KLIK DISINI
11/16/2016
Kepala BPOM RI dan Bupati Purbalingga Kunjungi Festival Makanan Tradisional SMA N 1 Rembang
Rembang-Selasa (15/11/2016). Kepala BPOM RI, Ibu Peni Lukito dan Bupati Purbalingga, Bapak Tasdi mengunjungi festival lomba makanan tradisional Siswa siswi SMA N 1 Rembang Purbalingga. “Festival lomba ini merupakan rangkaian acara untuk menyemarakan pencanangan Gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) dan bagian dari menumbuhkembangkan budaya hidup sehat dikalangan warga sekolah. Serta mengenalkan kembali aneka makanan tradisional yang bagi anak-anak zaman sekarang banyak yang tak mengenalinya”, tutur Bambang Eko Basuki, waka kesiswaan SMAN 1 Rembang Purbalingga.
Acara yang mengambil tempat di lapangan SMAN 1 Rembang itu, menyajikan aneka makanan tradisional. Seperti ciwel, gebral, pecel, lutis, gelo godhog, kimpul godhog dan aneka makanan tradisional lain, yang alami, bebas pengawet dan pewarna.
Mekanisme lomba yakni Setiap kelas menyajikan satu makanan tradisional. Pengunjung yang datang kemudian diberi tiga bendera kecil, yakni bendera warna biru, kuning dan merah. Yang masing-masing warna memiliki makna tersendiri. Setelah mencicipi makanan, pengunjung kemudian menancapkan bendera di dekat makanan tersebut. Pemenang lomba adalah kelas yang makanannya mendapatkan bendera terbanyak dari pengunjung.
Selain mengunjungi stand lomba makanan tradisional, Kepala BPOM dan Bupati Purbalingga juga meninjau UKS, Kebun ekstrakurikuler pertamanan, dan kantin SMA N 1 Rembang. Penunjukan SMA N 1 Rembang sebagai bagian dari pencanangan Germas sendiri tidak lepas dari status SMA N 1 Rembang yang pernah menyabet juara 3 sekolah sehat tingkat nasional*SM87
10/19/2016
Simposium Guru Nasional Tahun 2016
Simposium GTK merupakan wahana yang berguna untuk menuangkan ide, gagasan dan mencari pemecahan isu atau permasalahan strategis tentang pendidikan dengan melibatkan unsur guru dan tenaga kependidikan, pemerintah dan pemangku kebijakan serta partisipasi masyarakat
Oleh karena itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) akan menyelenggarakan Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) dalam rangka Hari Guru Nasional Tahun 2016 pada tanggal 24-25 november 2016.
Persyaratan Peserta
- Membuat dan menyerahkan artikel sesuai dengan topik yang telah ditetapkan;
- Satu orang calon peserta hanya mengirimkan satu artikel;
- Artikel harus asli merupakan hasil karya sendiri;
- Artikel belum pernah dipublikasikan dan/atau tidak sedang diikutkan dalam perlombaan tingkat nasional yang sejenis;
- Tulisan tidak mengandung unsur SARA;
- Artikel dikirim melalui laman http://simposium.gtk.kemdikbud.go.id dalam format pdf (bukan format JPG)
Topik Simposium
- Penguatan Pendidikan Karakter di Satuan Pendidikan
- Optimalisasi Pendidikan Inklusi
- Revitalisasi SMK dalam menghadapi daya saing ketenagakerjaan
- Membangun Budaya Literasi di Satuan Pendidikan
- Profesionalitas GTK melalui GTK Pembelajar
- Pelindungan GTK (Hukum, Profesi, K3 dan HaKI)
- Membangun Integritas di Satuan Pendidikan
- Penilaian Kinerja GTK
- Meningkatkan Mutu dan Akses Pendidikan di Daerah Khusus (3T)
- Teknologi Informasi sebagai Media Pembelajaran
Cara Pendaftaran online KLIK DISINI
Download pedoman Simposium Guru Nasional Tahun 2016 KLIK DISINI
10/12/2016
10/08/2016
TIK, SOLUSI PEMERATAAN KUALITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA
Salah satu permasalahan pokok pendidikan di Negara kita adalah kualitas pendidikan yang tidak merata. Terdapat ketimpangan, Antara mereka yang berada di desa dengan kota. Antara mereka yang berada di wilyah Indonesia barat dengan wilayah Indonesia timur.
Kualitas pendidikan yang tidak merata, tentu tidaklah lepas dari pengaruh kondisi geografis dan demografis Indonesia yang unik. Letak geografis Indonesia yang begitu luas dengan keanekaragaman topografinya merupakan masalah tersendiri. Khususnya terkait dengan sarana prasarana dan daya aksesnya. Pun demikian dengan jumlah populasi penduduk beserta keanekaragaman demografisnya. Sehingga perlu perlakuan yang berbeda dalam proses pendidikan.
Jadi, alangkah naïf, jika memotret masalah pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia secara simplifikasi.
Sering kita mendengar, komparasi yang tidaklah apple to apple dengan membandingan kualitas pendidikan Indonesia dengan Negara lain. Semisal, membandingkan kualitas pendidikan Indonesia dengan Singapura. Apalagi dengan menambahi embel-embel, padahal singapura Negara kecil dan sebagainya. Tidaklah relevan jika terlalu membandingkan pendidikan kita dengan Singapura. Pasalnya, Singapura dengan luas wilayah sempit dan jumlah penduduk yang sedikit, lebih mudah untuk di kelola sistem pendidikannya. Dibandingkan dengan Negara kita yang begitu kompleks permasalahannya.
Indicator kualitas yang sering digunakan untuk mengukur kualitas pendidikan adalah output yakni kualitas lulusan. Ujian nasional (UN) menjadi alat tolak ukur untuk memetakan kualitas pendidikan dalam skala nasional. Dan hasil UN dari tahun ketahun masih menunjukan adanya ketimpangan atau kekurangmerataan kualitas antar satuan pendidikan ataupun antar daerah
Untuk memecahkan masalah pemerataan kualitas pendidikan, Kita perlu memandang pendidikan sebagai sebuah sistem. Dimana didalamnya merupakan satu kesatuan yang terdiri dari beberapa unsur yang saling memengaruhi, yakni input, proses dan output. Dengan demikian, untuk mendapatkan output pendidikan yang berkualitas secara merata, perlu adanya perbaikan pada sisi input dan proses
Input pada sistem pendidikan adalah peserta didik beserta latar belakangnya, dasar pendidikan dan tujuan pendidikan. Proses pendidikan meliputi pendidik dan tenaga kependidikan, kurikulum, sarana prasarana, administrasi dan anggaran. Adapun output pendidikan yakni lulusan peserta didiknya.
Dewasa ini, kita hidup pada abad 21, dengan karakteristik siswa sebagai input pendidikan berasal dari generasi Y dan Z. Menurut teori generasi (generation theory), generasi Y merupakan generasi yang lahir antara tahun 1981-1994. Dan generasi Z, lahir antara tahun 1995-2010. Baik generasi Y maupun Z, salah satu ciri utamanya adalah mereka lekat dengan penggunaan tekhnologi informasi dan komunikasi, seperti gadget dalam kehidupan sehari-harinya.
Hasil survey Google Indonesia dengan lembaga riset Gfk pada tahun 2015, menyatakan 61 % masyarakat Indonesia menghabiskan waktu untuk internetan rata-rata 5,5 jam perhari. Dimana secara berurutan, intensitas penggunaanya dihabiskan untuk hiburan, mencari informasi, mengakses media social, belanja online, komunikasi dan kerja
Oleh karena itu, Tekhnologi informasi dan komunikasi sebenarnya dapat dijadikan sebagai solusi atas masalah pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia
Upaya penggunaan TIK untuk pemerataan kualitas pendidikan dapat dilakukan untuk perbaikan proses pendidikan, yang meliputi:
Pertama, Pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan efektifitas, efisiensi, minat dan kreatifitas dalam pembelajaran. Dengan TIK pembelajaran lebih efisien, semisal penggunaan media presentasi dibandingkan dengan menulis materi di papan tulis. Ataupun penggunaan video pembelajaran untuk menjelaskan suatu fakta lebih efektif ketimbang dengan ceramah. Selain itu, minat dan kreatifitas siswa lebih terasah. Seperti yang penulis alami, pada saat menggunakan media komik berbantuan software dalam pembelajaran ekonomi.
![]() |
| Siswa membuat komik berbantuan software kemudian mempresentasikannya |
Kedua, Pemanfaatan TIK sebagai sumber pembelajaran. Dengan TIK, sumber pembelajaran lebih bervariatif, semisal dalam bentuk buku, website, blog, video, audio, ebook dan game pembelajaran. Dengan semakin banyaknya sumber pembelajaran dan semakin murahnya perangkat tekhnolgi , hal ini berakibat pada akses distribusi yang semakin merata.
Ketiga, Pemanfaatan TIK untuk peningkatan kualitas guru. Dengan TIK, guru dapat saling berbagi pengetahuan dengan sesame guru untuk meningkatkan kualitasnya. Seperti yang sudah dilakukan oleh pemerintah, melalui program Guru pembelajar dengan moda daring (dalam jaringan). Ataupun komunitas-komunitas guru, yang mengadakan pelatihan secara online melalui pemanfaatan aplikasi android.
Keempat, Pemanfaatan TIK untuk peningkatan kualitas Siswa. Dengan TIK, siswa sebenarnya dapat belajar dengan teman sejawat (tutor sebaya) melalui penggunaan aplikasi tertentu. Semisal membuat grup belajar melalui penggunaan media social.
Pada akhirnya, dengan TIK, pembelajaran dapat dilakukan Kapanpun, dimanapun, dengan siapapun. Yang mampu menembus sekat-sekat geografis dan demografis.
SAMRIN, S.Pd * Penulis adalah Guru Mapel Ekonomi SMA N 1 Rembang Purbalingga
10/07/2016
Nilai Ulangan Harian Terpadu Prakarya Kls X
Berikut nilai UHT untuk mapel prakarya dan kewirausahaan kelas X semester 1 tahun 2016. untuk melihat nilai, Klik Disini
10/06/2016
Subscribe to:
Posts (Atom)
Terbanyak dibaca
-
A. LATAR BELAKANG SMA Negeri 1 Rembang merupakan lembaga pendidikan yang bervisi yakni terwujudnya prestasi dibidang Iptek dan Imt...
-
“SimPel/SimPel iB adalah tabungan untuk siswa yang diterbitkan secara nasional oleh bank-bank di Indonesia,dengan persyaratan mudah dan se...
-
Karakter/ dimensi-dimensi yang harus dimiliki oleh wirausahawan yakni: 1. Kualitas dasar kewirausahaan, meliputi: a. Daya Pikir:...
-
A. LATAR BELAKANG Sepakbola merupakan olahraga paling popular di negeri ini. Tidak mengherankan jika tayangan sepakbola selalu menem...








